Kamis, Mei 22, 2014

Tokong(cerpen)

Mencari yang ada; seperti itulah kesibukan pasar di pagi itu, orang-orang di pulau laut berduyun duyun keluar masuk pasar datang pergi tak pernah sepi, segala bentuk transaksi tawar menawar pun silih berganti, pasar memang tak pernah sama dengan kuburan, jikalau pun kuburan di sesaki penziarah
namun setiap orang suaranya harus ikut mati bersama tempatnya, lantas sepi dan sunyi itu sakral.
Dan begitu pagi buta para penjaja ikan di pasar riuh oleh cerita salah seorang rekan mereka, konon ada seseorang yang memborong semua ikan, tak ada yang aneh sebenarnya karena tiap hari selalu ada orang yang membeli ikan sampai ratusan kilo, namun yang menjadi keheranan mereka ketika diteliti uang yang di bayarnya miring kekiri, memang semua ikan dipasar laku habis, dan pembelinya seketika lenyap di telan keheranan orangdi pasar.
Gempar suasana pasar pagi itu,belum ada sebelumnya orang membayar dengan uang yang miring,pulau ini terlalu kecil untuk di masuki uang palsu, dan wajah pembelinya begitu asing bagi mereka belum pernah terlihat sebelumnya.
Tak mau gusar dalam keheranan semua penjaja ikan membawa uang mereka ke bank satu satunya unit bank yag ada di sini, sekilas tak ada yang salah dengan uang tersebut dan bank pun menerimanya. Tidak ada sedikitpun dari petugas bank mengakatakan uang itu palsu, ini pembayaran yang sah. Di sela sela itu muncul pula cerita dari seorang tauke cina yang memiliki empat kapal, ia saudagar paling kaya di pulau laut tersebut, ketika membeli mobil di kota, pemilik dialer berkata”beberapa hari yang lalu ada orang dari pulau mu memborong mobil dan tiga puluh mobil dibelinya”. Ketika kami bertanya” kemana kalian akan membawa mobil ini?”, mereka menjawab “akan dibawa kepulau laut”. Sedang tauke tak habis berpikir, kalau pun di kampung itu ada yang baru membeli mobil tentu tau siapa pemiliknya, pulau ini terlalu kecil untuk mobil sebanyak itu, jalanan pun lebih banyak jalan setapak dari pada beraspal, dan tentu pasti dibawa oleh kapal pemilik tauke, karena tak ada orang lain yang memiliki kapal besar.
Sejauh ini hanya ada lima mobil di pulau laut, tiga punya tauke, satu ambulan puskemas dan satu lagi milik kantor kecamatan, dan hanya tauke yang mampu membeli mobil di pulau itu.
Setiap mulut seisi pulau laut mulai di hinggapi hinggar binggar pertanyaan . Lantas siapakah yang memborong ikan dan membeli banyak mobil dikota?. Para tetua pun tidak pernah bisa memberi jawaban, mereka bungkam seribu bahasa seolah ini hanya semacam angin lalu.

Kemisterian menyelimuti setiap sudut, ingin rasanya mereka meraba raba apa sesungguhnya yang telah terjadi di perkampungan ini.

Hal yang tak lumrah memburu segenap tanya, namun pada akhirnya di antara kerumunan kerumunan tanya itu ternyata ada yang berani bercerita, yaitu paklung, orang yang biasa menyelam tripang, disuatu malam ketika ia menyelam tripang, ia melihat ada yang menyembul,”tokong” tanah kukup atau tanah yang menonjol dipermukaan laut,sedang ketika menyelam, ia tidak melihat sama sekali adanya dasar dari pulau itu, pulau itu terapung, yang menyambung dari pulau laut.
Share:

0 komentar: