Aku memilih Tuhan tempat menenangkan diri, lantas apakah Tuhan juga memilh menenangkan diri bersama ku? Pernah pertanyaan itu membelit seisi kepalanya, ketika sang petapa tua memulai memburu mencari Tuhan yang hilang dalam pelukanya, kini perasaan buruk sangka kerap ia lontarkan pada dirinya sendiri, lama sekali sebelum kota mengenalkan dia pada kehidupanya, kehidupan yang tak mengenal air mata yang ada hanyalah pesta.
Si petapa tua dulu adalah sang jago ibadah, saat kota belum tersentuh olehnya. Bahkan ia selalu berdahlih fatwa tak cukup buat alam semesta yang begitu luas.
Malam itu tiap orang yang ia temui dalam pesta ia bertanya “apakah kamu bahagia? Apakah kamu bahagia ?” coba tanya adam pak mengapa memilih Hawa dari pada Tuhan ? seorang wanita dari tengah pesta berujar pada petapa tua, buang kehidupan mu, disini dosa lebih dari surga, wanitu itu pun menambahkan dan berlalu. Sang petapa terdiam “kalau dosa lebih indah mengapa Tuhan menciptakan surga? “Masih terdiam dalam lamunan di antara gemerlap lampu-lampu panggung yang berkelip dalam dentuman suara musik, yang memekakkan gendang telinga.
Seseorang yang dari tadi memperhatikan petapa tua mendekati mengajak kenalan dan menawarkan minuman, ‘ bung berbahgialah disini, toh tuhan juga suka pesta dan tak melarang kita bahagiakan?’
Ia menyadari siapakah tuhan orang-orang di sini,kemudian ia keluar dari pesta, di pikiranya ia bertapa akan sekulumit keresahanya yang lebih berat dari ransel di punggungnya, di pandangnya langit dengan kekosongan tanpa ia sadari di sana telah tersenyum Muhammad, Isa, Abyaksa, Sidarta melambai ramah.
0 komentar:
Posting Komentar