Kamis, Mei 22, 2014

Sungai terlarang(cerpen)

Jika dunia berpaling pada mu, ia datang sebagai belenggu sang messayah dari dunia astral, sungai itu jadi saksi ketika sebuah kapal besar melintas dengan syarat muatan, sedangkan di hari biasa sungai itu tidak memiliki hulu, Abah pernah sekali mencari asal muasal kapal itu, yang membawanya pula pada keajaiban,pernah ia terjatuh ketika memanjat pohon kelapa pada ketinggian dua puluh meter, namun tubuhnya seakan seperti bola kasti memantul di tanah dan balik lagi ketanah tanpa lecet barang sedikitpun.
Ia berumur lima puluh tahun, katanya ia sudah menikah tapi tak peranah orang-orang melihat seperti apa istrinya.
Aku bertanya pada abah pas suatu malam purnama, ketika tengah malam jum’at ia membawa pancingan, “Abah hendak kemana? Ketus ia dengan nada pelan “ aku hendak mancing kesungai” rasa penasaran telah menutupi rasa takut ku, ku ikuti perlahan dan aku intip yang di lakukan abah, ooh ia turun kesungai entah apa yang ia lakukan,.

Ada lagi aku melihat air sungai yang berlawanan arus keatas mengikuti langkah abah yang berjalan menuju kehulu, sungai ini sungsang hulu yang tak pernah terlihat dan abah menghilang dalam gelap.

Aku ikuti tepian sungai terlarang itu abah tak pernah tampak lagi, aku menemukan ia di tengah kerumunan orang-orang di rumahnya dalam balutan pakaian istana bersama seorang permaisuri, sedangkan tak satupun orang yang aku kenali di situ
Share:

0 komentar: