Senin, Mei 05, 2014

Maafkan aku

Ketika rasa rindu itu muncul, aku hanya bisa memperhatikannya dalam dunia maya.
Kekuatan rindu itu yang akhirnya membuat waktuku terhambur dengan sia-sia hanya untuk kegiatan stalking.
Senyum di bibir ini muncul dengan seringnya ketika mata ini asik menyusuri halaman akunnya. Namun di tengah-tengah keasikan itu, tiba-tiba terbesit pikiran dalam otak. Bukan hanya dalam otak, tetapi dalam hati pula. Terfikirkan olehku akan sesosok wanita yang belum kuketahui wujud fisiknya. Calon Pendampingku kelak.
Muncul dalam hatiku rasa bersalah yang amat dalam. Muncul dalam benakku rasa malu yang amat. Muncul dalam diriku rasa tak tahu diri yang amat pula. Dan muncul pula rasa takut dalam jiwaku. Takut, jika calon pendampingku melakukan kegiatan yang sama, pada laki-laki lain. Lebih-lebih jika itu sebagai bentuk balas ganti akan perbuatanku tadi.
Kututup pelan-pelan jendela akun wanita tadi. Kekuatan rindu semu tadi, dapat kukalahkan oleh kekuatan cinta sejati. Dengan mengucap istighfar, kucoba mengusir bayangan wanita tadi. Dan kukatakan dengan lirih, “Maafkan aku, calon pendampingku…”.
Share:

0 komentar: