Senin, April 28, 2014

Dengan Siapa Aku Bersanding

Peringatan : Jangan membaca jika terlalu serius dan jangan mencerna jika terlalu
bercanda. haha Semoga bermanfaat


Selamat pagi,siang,sore dan malam teman-teman pembaca sekalian. Kenalin,namaku Riko. Seorang karyawan disalah satu Bank Swasta.Untuk menjadi seorang karyawan sebuah bank,tentunya kalian juga pasti tau persyaratan umumnya. yup,berpenampilan menarik. Berdasar pengalamanku,banyak yang bilang kalau aku ini cukup tampan. yaa,kalian bisa membayangkannya sendirilah. Aku memiliki seorang sahabat dekat,seorang wanita bernama
Kiran. Cukup cantik,namun entah kenapa aku ini sama sekali tidak tertarik untuk menjadikannya pacar. Ooiya,aku ini seorang playboy. Pacarku ada 5 atau 7 ya,aku lupa. Dengan penampilan dan materi yang cukup,aku bisa menggaet beberapa wanita dalam yaaa paling 2 hari bisa 3 orang mungkin. Kiran tau semuanya,aku selalu cerita kalau aku dapat pacar baru (lagi). Dan kalimat pertama yang di ucapkannya ketika aku cerita adalah...........
"Gila kamu,mau sampai berapa banyak korban?"
"ya sampai aku menemukan yang cocok buat jadi istri" jawabku.
"gimana mau cocok,2 atau 3 bulan udah kamu putusin" bantahnya.
"yaa berarti itu gak cocok." bantahku lagi. kali ini aku cerita tentang Jani,cewek baru yang aku kenal dari salah satu cafe. kebetulan dia itu waiters disana.
"terserah kamu deh" jawab kiran singkat.
"kamu sendiri gimana sama pacarmu yang...siapa itu namanya? lupa aku."
"Doni,hmmm,begitu lah. seperti biasa" lanjutny a.
"hahahaha,mau serius kok malah galau,mending kayak aku. anti galau,hahaha". ejekku.
"kamunya sih gak galau,cewek cewek kamu itu yang galau." tegasnya.
"udahlah,sekarang kita makan aja"ujarku sambil menarik tangannya dan mengajak ke satu warung makan langganan kami.
Sebegitu akrabnya kami berdua,hingga orang kantor,orang rumah,penjaga warung bahkan tukang parkir mengira kami berdua ini adalah 2 insan yang tengah menjalin hubungan asmara. hahaha. Kami sih cuek saja,soalnya kami jelasin yang sebenarnya mereka pada gak percaya. Ya udah,bodo amat. Emangnya didunia ini gak boleh ya sahabatan beda kelamin. aneh ya....?

*****

Hari ini aku tengah jalan bareng pacarku Santi. Seperti biasa layaknya orang pacaran. Oiya,Santi ini orangnya agak agresif. Kalo dilihat,kayaknya agak miring-miring juga otaknya. Alias nafsuan. Aku juga baru tau setelah 1 minggu pacaran. Bayangin aja,aku di ajakin nginep dikost nya dia. Maklum,mahasiswa. Jadi masih ngekost. Et,jangan berpikir negatif dulu tentang aku. Yaa aku gak mau lah. secara logika,berartikan dia udah biasa ngajak cowok ke kostnya dia sebelum-sebelum aku. iya gak? ihhhh,jijik lah. masa' iya gue dapet barang second pangkat lima atau lebih. Lagi pula,senakal-nakalny aku masih ingat akhirat mamennnn. Ya udah,2 minggu putusin. Gak apa-apa lah,untung peluk,gandeng tangan sama cium dikit. *eh. hmm,cewek kayak gitu emang buat mainan doang bagi laki-laki. ingat itu.
Apalagi aku,cewek kayak gitu sih buat iseng iseng aja biar gak bosan. hahahaha

Hmmm,3 hari ini Kiran gak masuk kerja karena sakit. Berarti 3 hari juga aku gak ketemu dia. Kayaknya sakitnya parah. Sepi juga duniaku kalau gak ada dia. Meskipun cewekku banyak,tetap aja beda kalau ngejalani hari tanpa Kiran. hahaha.
"mas,pacarnya mana? kok 3 hari ini sendirian terus?" tukang parkir warung makan mulai kepo.
"sakit mas,nih. pergi dulu ya" jawabku singkat sembari membayar parkiran dan pergi.
Di perjalanan pulang,aku jadi kepikiran buat jenguk Kiran dirumahnya. Ah,aku banting stir. Cari buah dan sop ceker. Jadi,si Kiran itu doyan banget sop ceker. Begitu semuanya sudah dapat,aku langsung cussss ke rumah Kiran.

teng nonggggg (suara bel).
"eh,den Riko." sapa bi jum (pembantu di rumah Kiran)
"eh,bibi. Kirannya ada?"
"loh,den Riko gak dikasih tau ya. semalam itu non Kiran dibawa ke rumah sakit,den" jawab bi jum.
"waduh,ya udah bi. aku pergi dulu" lanjutku cepat dan pergi. sekitar 100 meter dari rumah Kiran,aku menghentikan mobilku. Tau gak kenapa? aku kan gak tau dia dibawa ke rumah sakit mana. goblok banget. hahaha. aku nelpon Kiran,gak di angkat. Ya udah,aku balik lagi ke rumahnya untuk bertanya pada bi jum.

teng noongggg....(bunyi bel)
"eh,den Riko lagi."sapa bi jum lagi. -,-
"eh,bibi lagi. Kiran nya dibawa ke rumah sakit mana bi?"
"loh,den Riko gak tau juga?" tanya bibi (nyebelin juga lama lama)
"ya gak tau bibi jum yang cantik" ujarku terpaksa.
"hehehe,makasih den" balasnya singkat sambil tersipu malu. (makin nyebelin gak tuh)
"bi? Kiran nya dibawa kemana?" tanyaku lagi.
"eh,iya den. non kiran dibawa ke rumah sakit Husada 2".
"oke,makasih bi." sahutku singkat lalu pergi.

Setibanya di Rumah sakit. Aku nanya bagian jaga,kamar kiran di rawat. muter-muter nyarinya. dan aku lupa sop cekernya ketinggalan di mobil. aduh,balik lagi deh gue.
15 menit berlalu,tiba lah aku di kamar kiran dirawat.
"sore tante,om"sapaku pada ibu dan bapaknya Kiran.
"eh,nak Riko. Kirannya lagi tidur. tapi udah lama sih dia tidur. tante bangunin dulu ya."
"jangan tante,biar aja dia tidur. biar cepat sembuh." sahutku. Terlihatbapaknya Kiran memberikan kode aneh pada istrinya. Entahlah,aku juga tidak mengerti.
"ma,papa lapar nih. kita cari makan yuk. sekarang kan ada Riko yang jagain Kiran. ayo ma. nak Riko,titip Kiran ya" ujar bapaknya. oo..jadi ini kodenya. aku hanya mengangguk saja.
Mereka pun keluar dan aku pun bingung. Celingak celinguk kayak orang gila. Sop cekernya keburu dingin kena AC. hahaha
"Aneh," kalimatku terpotong oleh Kiran.
"Riko? kok kamu ada disini? mama sama papa ku mana?" tanya Kiran berturut-turut.
" ya ada lah,aku cariin di kantor kamu gak masuk-masuk. cariin kerumah kamu,eh malah disini. kamu sakit apa sih?" tanyaku balik
"gejala tifus. kamu bawa apa tu? banyak banget kayaknya."
"ini aku bela-belain beli buah n sop ceker. mau gak? kalo gak mau,aku kasih satpam rumah sakit ni." ujarku.
"hahahaha....mana? sini!" sahutnya.
"udah deh,tangan beselang-selang gitu mau makan ceker. aku suapin deh. gak apa-apa,hari ini aku jadi pelayan kamu."
"pantesan aja ya cewek-cewek ada mau sama kamu. pandai bersandiwara sih. sok sok romance segala. hahaha". lanjutnya.
"banyak bacot,nihhhh" aku sumpel mulutnya dengan ceker ayam yang paling gede. hahahaha. kami berdua tertawa tertawa terbahak-bahak. tiba-tiba sesorang mengetuk pintu....
"maaf mas,mbak. tolong jangan berisik ya." ujar salah seorang suster,lalu keluar lagi. kami masih saja tertawa,namun lebih pelan. hihihi.
Aku pun memutuskan untuk menemani Kiran hingga besoknya. Masalah cewek-cewek gue,semuanya diliburkan. Karena sahabat itu jauh lebih penting .
"Doni mana? kok dari tadi gak kelihatan batang hidungnya? ujarku memecah kesunyian malam.
"peduli apa,udah gak ada urusan aku sama dia." jawab Kiran.
"kalian udah putus? kok aku gak dikasih tau?"
"lah,ini aku kasih tau." sahutnya santai.
"iya sih. hm,susah ya nyari pasangan hidup yang bener." lanjutku.
"kayak yang ngomong bener aja."
"yaa aku gini kan karena ceritaku dulu sama Novi. siapa suruh dia nyelingkuhin aku yang jelas-jelas pengen serius" kataku.
"yang salah 1 wanita,kenapa banyak wanita yang jadi tempat balas dendam kamu?" kiran menyanggah.
"iya juga ya." aku tersadar.
"hm,kira-kira siapa duluan yang bakalan nikah. aku atau kamu." lanjutku.
"ya kalau bisa sih barengan. biar seru.." jawab Kiran.
"boleh juga tuh,kan biar lebih irit biaya. hahaha. eh,tapi gini deh. kalau misalkan aku dan kamu............yee malah ditinggal tidur." ujarku,namun si Kiran sudah tidur. entah kenapa,tanpa sadar aku mengelus rambut Kiran. seraya berkata "makasih ya".
Dan semenjak saat itu lah,aku yang telah bersahabat lebih dari 7 tahun lamanya mulai memiliki rasa yang berbeda. ya aku pendam-pendam saja. aku takut perahabatan kami rusak karena perasaan yang belum jelas ini.
Aku un perlahan mulai melepas masa jabatan playboy ku. Satu persatu pacarku aku putuskan dengan hormat. Responnya bermacam-macam,ada yang nangis,pasrah,bahkan yang nampar juga ada. Tapi ada 1 cewek yang aneh,2 cewek deh. yang satu minta peluk lamaaaaaaa banget,terus nampar gue. aneh kan?. nah yang satunya lagi gak mau di putusin. dia bakalan nerima,meskipun cuma buat dijadiin selingkuhan. sambil nangis-nangis tuh. malu banget gue di liat orang-orang. segitu hebatnya kah pesona ku?? hahaha.
Ketika semua urusan dengan cewek-cewekku itu selesai,aku pun menceritakan semuanya pada Kiran. Dia heran denganku,
"kamu serius,udah mutusin semua pacar-pacarmu yang tak terdefinisi itu?" ujarnya. Aku hanya mengangguk saja sambil senyum dikit.
"lah,kenapa emangnya? tobat? hahaha" lanjutnya.
"aku pengen nyari yang serius buat di ajak nikah." jawabku santai.
"hahahaha,syukur deh kalau kamu udah sadar. oke,mulai sekarang kita cari pasangan sejati kita sama-sama. kan kita mau nikahnya sama-sama ntar. Kira-kira nanti dengan siapa ya aku bersanding." ujar kiran sambil memejamkan matanya.
"kenapa gak kita berdua aja yang nikah?" aku bertanya begitu saja.
"haa? kita? kamu dan aku nikah???" Kiran tampak kaget.
"iya. kita kan udah lama kenal dan aku rasa semua akan menyenangkan. Dan impian kita buat nikahan bareng bisa terwujud kan. iya gak?" jelasku.
"gila kamu. gak lucu lah bercandanya"
"kenapa gila,emangnya aku kurang tampan apa?" tanyaku polos.
"bukan masalah tampan atau enggaknya,ntar malah dipoligami kalau aku nikah sama kamu. hahaha" kiran masih saja menganggapnya lelucon.
"ya enggaklah,kalau sudah menikah yaa aku bakalan serius. satu ya satu." jelasku lagi.
"ini kamu serius?" kiran sepertinya mulai sadar bahwa aku sedang serius.
"untuk apa bercanda,sampai jumpa nanti malam ya. dandan yang cantik dan pastikan orang tuamu ada di rumah." setelah berkata begitu,aku pergi begitu saja meninggalkan Kiran yang tengah bingung dengan senyumnya.

*****
Begitu aku pulang ke rumah,aku langsung bicara pada kedua orang tuaku. Apa yang kubicarakan? Yaa,aku meminta mereka untuk melamar Kiran malam ini juga.
"ma,pa. Riko pengen Nikah." ujarku langsung.
"apa nak? Papa gak salah dengar?" tanya papaku kaget.
"kamu mau nikah sama siapa? ngenalin cewek aja gak pernah. kecuali teman kamu itu si Kiran." lanjut mamaku.
"yaa itu,aku mau nikah sama kiran." jawabku
"kamu serius?" tanya papaku lagi.
"ya iyalah. makanya,aku minta mama sama papa ngelamar kiran malam ini juga." pintaku.
"oke,mama setuju." sahut mamaku dengan semangat. Terus terang saja,mamaku ini dari dulu nyuruh aku sama kiran buat nikah aja. Tapi dulu itu,kami menjawabnya dengan tertawa saja.
"ya,kalau kamunya serius dan mama kamu juga setuju. Papa oke-oke saja. Nanti malam kita kerumahnya." ujar papa.
"serius pa? yuhuuu,makasih ya pa,ma." lanjutku girang dan memeluk mereka.
Ketika malam menjelang......
"Riko! gimana,udah siap belum?" teriak mamaku dari bawah.
"bentar !" jawabku singkat. Aku pun berinisiatif untuk mengirim pesan singkat pada Kiran.
hei,kamu udah dandan cantik blm?
aku udah mau otw ke tempat kamu ni.
bareng bonyok.
see~u...
hehehe

Setelah mengirim pesan itu,aku pun turun ke bawah dan langsung bergegas pergi ke rumah kiran bersama keluarga. Diperjalanan aku sempat grogi juga. Terlihat orang tuaku tampak begitu bahagia. Maklum saja,anak semata wayangnya bentar lagi nikah. hahaha.
Tibalah di rumah kiran....
teng noonggg...(bunyi bel)..
"eh,den riko. pak,bu" sapa bi jum.
"eh,bi jum. orang rumah ada kan?" tanyaku.
"ada den,lengkap. sudah ditunggu oleh tuan dan nyonya. mari silahkan masuk". kami pun masuk. Terlihat papanya Kiran saja yang menyambut kami. Setelah bersalaman dan basa-basi dikit,aku pun bertanya...
"Tante sama Kirannya ya om?"
"ohh,biasa wanita. mungkin bentar lagi turun. nah itu..."jawab beliau sambil menunjuk arah datangnya mereka. wedeeeeww....Kirannya Cantik banget mament... dengan dress hitamnya ia turun bagaikan seorang putri raja.
"Hai,kiran" sapaku gugup.
"ini ada sih,kok kita di ajak ngumpul gini?" bisiknya santai namun agak malu.
"udah liat aja ntar." jawabku. Ni orang emang Oon atau pura-Pura oon.
"gimana kabarnya jeng? sehat?" ujar mamaku pada mamanya Kiran. Biasa,ibu-ibu arisan. manggilnya jang jeng jang jeng.
"sehat. jeng sendiri gimana?" balas mamanya kiran.
"syukurlah,saya juga sehat. duhh,nak Kiran ini cantik sekali. " lanjut mamaku.
"hee,makasih tante. tante juga." balas kiran lagi.
"Langsung saja ni,tentu saja kami datang kesini memiliki tujuan." Papaku mulai beraksi. hahaha.
"apa tujuannya itu,pak?" tanya papa Kiran. Dua raja tengah bicara. yang lain hanya duduk dan berdoa.
"Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk melamar Kiran untuk menjadi pendamping Anak kami,Riko." lanjut papaku. terlihat kiran sedikit kaget. begitu juga orang tuanya. semua mata tertuju padaku.
"yaa,kalau itu sudah menjadi kehendak mereka untuk saling membina rumah tangga. kami sebagai orang tua hanya bisa merestui. bagaimana Kiran,apa kamu bersedia di sunting oleh Riko?" tanya papanya.
"ee..." kiran agak gugup dan melihat ke arahku. aku hanya melemparkan senyum dan kedipan mata. Terlihat dia hanya tertawa dan mengangguk kecil.
Yihaaaaaaaaa......itu artinya lamaranku di terima guys.. Akhirnya aku bakalan bersanding dengan Kiran. hahaha.
"syukurlah,berarti kita tinggal menentukan tanggal pernikahan dan resepsinya." lanjut papa kiran. tanpa sadar,aku berkata,
"minggu depan aja om. nikah+resepsi dibarengin. Gak perlu yang mewah lah."
"semangat sekali kamu?" ledek papaku. semuanya pada tertawa. aku jadi malu >.<
"ya,kami sih terserah saja. lebih cepat lebih baik" lanjut papanya kiran lagi.
"berarti mulai besok,kalian harus dipingit. gak boleh ketemu. cukup memberi kabar via handphone." ujar calon ibu mertua. hahahaha
"beres,itu sih gampang. iya gak?" sahutku pada Kiran sambil mngedipkan mata tentunya. hahaha

*****

Hari demi hari ku lewati tanpa kiran,kangen juga ternyata. undangan telah disebar,WO sudah mempersiapkan segala sesuatunya.Pokoknya semua sudah beres. Tinggal aku saja yang belum beres,celingak celinguk gak karuan. ooiya,tukang parkir dan penjaga warung makan langganan kami juga aku undang. sebab,mereka juga mendoakan kami berjodoh kan. hahaha
Tibalah di hari H,pengulu sudah ada,wali,saksi dan kami berdua tengah duduk bersama. prosesi akad nikah akan segera berlangsung.
"wah,nanti malam kita bakalan capek ni." bisikku pada Kiran. hahaha
"apaan sih.." cubitnya malu..
Aaaaaaaaaaakkkkkkkkkk,gemesssssss deh. hahaahahahahahahahaha
"baiklah,kita mulai." ujar penghulu memecah suasana yang ramai menjadi Khitmat.
"saya nikahkan engkau Riko Dermawan Bin Wawan Sujadi dengan anak saya Kirani Putri Binti Bintoro dengan mas kawin sebuah liontin seberat 5 gram beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai." ujar papanya kiran.
"saya terima nikahnya Kirani Putri Binti Bintoro dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." jawabku lantang.
"gimana saksi?" tanya penghulu.
"sah,sah,sah."
"Alhamdulillah...(berdoa)"
Hahaha,akhirnya aku sekarang sudah menjadi seorang suami dari sahabatku sendiri. Begitu jauh aku berkelana untuk mencari cinta sejati,untuk mencari pendamping,untuk mencari sandingan,untuk mencari istri idaman. Ternyata ada di dekatku. Begitu lamanya aku baru tersadarkan akan sosoknya selama ini. Terkadang Tuhan mempertemukan kita pada orang yang tepat lebih awal,hanya saja kita sendiri belum menyadarinya.

Lalu,dengan siapa kalian bersanding??? :D
Share:

0 komentar: